Kemasan Retort Pouch Untuk Produk Siap Makan Anda

Halo Ultrapreneur semua.

Saat ini sedang banyak produsen frozen food baru. Dan banyak sekali produk yang kini dibuat frozen food. Namun, sebenarnya ada cara lain untuk mengawetkan makanan yang tak kalah mudah. Yaitu menggunakan kemasan retort atau retort pouch

Retort pouch adalah  kemasan fleksibel  berbentuk pouch atau  kantong  yang  digunakan  untuk mengemas  produk  pangan  siap  santap  (Meal Ready to Eat).  Kemasan  tersebut  dibuat  dari laminasi  aluminium  foil  dan  polimer,  tahan  terhadap  proses  sterilisasi.  Pengemas retort pouch telah  banyak  digunakan  pada  produk  sterilisasi  ikan  untuk  menggantikan  kaleng.  Pengemas semacam  kaleng  harganya  relatif  mahal,  sehingga  menyebabkan  harga  produk  yang  dikemas dengan  pengemas  tersebut  menjadi  mahal.  Dengan  berkembangnya retort pouch processing, proses  menjadi  lebih  efisien,  produk  bisa  dipanaskan  terlebih  dahulu  dengan  memasukkan  ke dalam  air mendidih  sebelum  dikonsumsi. Retort pouch  dengan  bentuk  yang tipis memungkinkan untuk mengurangi waktu  pemanasan, dengan demikian  dapat menghindari over cooking.  Produk yang  dihasilkan mempunyai  warna  yang  lebih  baik,  tekstur  kompak,  dan tidak  terjadi  susut  gizi. Produsen  dapat  mengurangi  energi  yang  diperlukan  untuk  produksi retort pouch dibandingkan dengan  kaleng.  Selain  beberapa  keunggulannya, retort pouch  juga  memiliki  kelemahan  atau kendala.  Kendala  yang  utama  adalah  modal  yang  besar  untuk  penyediaan  mesin  khusus  dan proses  pengisian  yang  lebih  lambat  dan  kompleks  dibandingkan  dengan  kaleng.

SEJARAH RETORT POUCH

Dalam  Perang  Dunia  II,  Institut  Fraunhofer  di Muenchen,  Jerman,  menerima  permintaan  dari Angkatan Perang  Jerman  untuk mengembangkan suatu kemasan yang praktis untuk pangan yang enak, bergizi, dan siap makan. Pada saat itu, tentara Jerman mendapat  jatah  makanan  berupa  sosis  yang diawetkan, roti kering, dan sayuran dikeringkan, yang dibentuk menjadi  empat  persegi  dan  dibungkus dalam aluminium foil atau cellophane (Sampurno, 2008).  Selanjutnya  dikatakan  bahwa  secara  teknis  penemuan ini bisa dipakai, tetapi pada prakteknya tidak berhasil  diproduksi  secara  massal.  Hal  ini  disebabkan karena investasi  pada  sistem  kemasan  kaleng  sudah sedemikian  besar  sehingga  tidak  mungkin  untuk menggantikan kaleng dengan retort pouch begitu saja. Pada  tahun  1960-an  Reynolds  Metal  Co mengembangkan retort pouch dengan  spesifikasi: PET/Al  foil/CPP  untuk  mengemas  kacang  polong dan wortel, sauerkraut dan semur daging. Spesifikasi ini tidak  banyak  berubah  sampai  saat  ini,  dan perkembangan retort pouch dari segi komersial dari tahun 1960-an  sampai  sekarang  juga  tidak terlalu berarti.

Kendala yang menghambat perkembangan retort pouch  selama  50  tahun  ini  disebabkan  karena perusahaan pangan sudah menginvestasikan uang yang  sangat  besar untuk  pangan dalam  kemasan kaleng  logam,  dengan  kecepatan  dan  efisiensi sedemikian  tinggi  sehingga  sukar  untuk menggantikannya dengan mesin untuk pouch. Oleh karena  itu,  sampai saat  ini  mayoritas  kemasan  pangan retort  masih  berupa  kaleng  logam.    Walaupun  demikian  ada  satu  segmen  di  sejumlah negara yang tetap menggunakan retort pouch selama ini, yaitu kalangan tentara.

Penggunaan retort pouch untuk makanan siap saji juga lebih mudah. Makanan cukup dimasak setengah matang untuk kemudian diisikan ke dalam retort pouch dan diseal dengan mesin seal agar kedap udara. Lalu kemudian retort pouch berikut masakan setengah matangnya, dimasak lagi sehingga makanan menjadi matang sempurna. Dengan demikian seluruh nilai gizi tetap baik, namun potensi tumbuhnya mikrobia juga bisa ditekan seminimal mungkin. Tentu ada teknik tersendiri dalam mengemas menggunakan retort pouch. Termasuk juga berapa tekanan yang harus dipakai untuk memastikan retort pouch matang sempurna. Namun kini banyak tersedia kemasan retort pouch yang bisa dipergunakan dengan cara merebus sampai mendidih saja tanpa perlu penggunakan panci bertekanan khusus.

Salah satu kelemahan dari retort pouch adalah kemasannya yang punya potensi rusak apabila tertusuk. Ini juga yang menyebabkan retort pouch harus memiliki kemasan sekunder sebelum dipasarkan ke toko retail.

Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk Ultrapreneur semua yang sedang mencari kemasan alternative untuk produk frozennya ya.