Pola Makan Plant Based Bisa Stop Global Warming? Ini Faktanya!

Pola makan plant based semakin menjadi tren. Tidak hanya untuk keperluan diet sehingga harus mengatur pola makan dengan mengurangi konsumsi daging dan memperbanyak konsumsi sayuran, tetapi sudah banyak orang yang mulai memiliki tujuan untuk memperbaiki lingkungan.
Memangnya apa hubungan pola makan plant based dengan isu lingkungan?
Mulai mengubah pola makan dengan mengurangi mengkonsumsi daging yang berarti berkaitan dengan eksistensi peternakan. Dari peternakan ini ternyata memberikan banyak dampak buruk untuk lingkungan.
Dampak Buruk Peternakan terhadap Lingkungan
Peternakan selama ini dianggap sebagai sektor yang diandalkan oleh pemerintah untuk memperbaiki ekonomi. Dianggap juga sebagai sektor yang bisa memperbaiki gizi masyarakat karena bisa diperlukan untuk memenuhi protein.
Akan tetapi, yang tidak disadari adalah semakin banyak jumlah peternakan berarti akan menimbulkan banyak  dampak untuk lingkungan karena peternakan akan menghasilkan limbah dan memerlukan banyak energi, seperti bahan bakar hingga sumber daya listrik.
Untuk lebih jelas, yuk langsung simak penjelasan berikut, Ultrapreneur!

1. Peternakan Memerlukan Listrik Berlebih


A Photo by Pixabay on Pexels

Dalam proses daging siap untuk dijual membutuhkan banyak langkah yang harus dilakukan, terlebih saat hewan tersebut masih dalam masa ternak.
Satu rumah tangga peternakan tentu saja tidak hanya berisi sepuluh atau dua puluh ekor, tetapi ratusan bahkan ribuan yang memerlukan tempat yang besar. Hewan tidak bisa dipelihara hanya ditaruh di satu tempat lalu dibiarkan, tetapi membutuhkan kebutuhan seperti manusia, terutama listrik.
Contohnya kandang ayam. Peternakan ayam membutuhkan listrik ratusan watt untuk membuat ayam tersebut merasa hangat. Tidak hanya untuk kehangatan para hewan, listrik juga digunakan untuk menghidupkan mesin saat para hewan sudah dalam pengolahan tahap awal, yaitu pemotongan untuk kemudian didistribusikan ke pasar.
Dari sini, peternakan tentu saja membutuhkan pasokan listrik yang berlebih dan akan menyerap begitu banyak sumber daya listrik dan bisa membuat polusi lingkungan.

2. Bahan Bakar Banyak Terbuang untuk Transportasi Hewan

Menurut data yang dijabarkan oleh Badan Pusat Statistik dalam bps.go.id yang dijelaskan dalam buku publikasi berjudul Peternakan dalam Angka 2020, terdapat 3 provinsi dengan jumlah rumah tangga peternakan paling tinggi di Indonesia, yaitu Jawa Timur dengan jumlah 298,52 ribu, Jawa Tengah dengan jumlah 150, 03 ribu, dan Jawa Barat dengan jumlah 120,65 ribu.
Dari jumlah angka tersebut kita bisa membayangkan ketika hewan-hewan tersebut sudah siap dipanen lalu diangkut untuk didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia tentu saja membutuhkan banyak bahan bakar karena menggunakan banyak transportasi.
Hal ini tentu saja akan memberikan polusi kepada lingkungan yang ditimbulkan oleh asap kendaraan serta pengurangan bahan bakar kendaraan.
Alasan itulah yang kemudian mendasarkan para vegetarian dan orang-orang yang baru saja menerapkan pola makan plant based menyerukan untuk mengurangi konsumsi daging.

3. Penghasil Polusi


A Photo by Pixabay on Pexels

Melalui Food and Agriculture Organization, PBB pernah merilis laporan yang menyatakan bahwa 18% dari emisi gas rumah kaca yang mengancam kerusakan ozon bumi dihasilkan oleh peternakan. Angka tersebut termasuk besar dan mengalahkan polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor yang hanya sebesar 13%.
Dengan polusi sebesar itu tentu saja akan semakin mempercepat pemanasan global yang kian lama kian mengancam kehidupan di bumi.

4. Memakan Lahan yang Begitu Luas

Ketika pola makan plant based membutuhkan banyak bahan makanan berupa tumbuhan, baik itu sayuran maupun buah yang berarti membutuhkan lahan luas untuk menanamnya, hal tersebut terjadi juga pada peternakan.
Bedanya adalah lahan yang digunakan untuk pertanian akan menghasilkan tumbuhan yang menghasilkan oksigen untuk keberlangsungan makhluk hidup. Namun, pada peternakan adalah justru memberikan beberapa dampak yang merugikan lingkungan.  Dampak-dampak tersebut adalah yang sudah dijabarkan di atas.
 

A Photo by Marcus Spiske on Pexels

Fakta-fakta di atas tentu bukan untuk membujuk semua orang untuk stop mengkonsumsi daging ya, Ultrapreneur. Namun, beberapa studi memang menyatakan bahwa mengurangi konsumsi daging tentu saja lebih baik, tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kesehatan karena resiko kolesterol hingga penyakit jantung yang menjadi penyakit menakutkan di dunia disebabkan oleh keberlebihan pengkonsumsian daging.
Sebuah prosiding jurnal dari Akademi Science National di Amerika Sekitar juga menyebutkan bahwa ketika manusia mulai mengurangi konsumsi daging mulai sekarang akan mengurangi kematian dunia hingga 7.3 juta pada tahun 2050 bahkan mengurangi gas emisi yang menjadi polusi lingkungan hingga mencapai angka 63%. Dan berbicara tentang angka, dengan memulai pola makan plant based tentu saja akan menghemat pengeluaran hingga Rp13 kuadriliun lebih.
Itulah yang akan menjadi tren kuliner di 2022 karena masyarakat lebih memperhatikan lingkungan dan kesehatan. Hal ini tentu saja bisa difokuskan oleh pebisnis kuliner sehingga bisa memperoleh target pasar yang tepat dengan strategi marketing yang sesuai.

Ditulis oleh Nisa Maulan Shofa